Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, mengungkapkan salah satu kunci keberhasilannya memimpin BCA selama 14 tahun sebagai presiden direktur.

Menurutnya, keberhasilan memimpin perusahaan tidak hanya ditentukan oleh strategi bisnis, tetapi juga oleh soliditas tim yang dibangun melalui kepercayaan, kepedulian, dan kedekatan dengan karyawan.

Jahja mengatakan, dukungan dan kerja sama tim menjadi faktor penting selama dirinya memimpin BCA. Ia berupaya membangun hubungan dengan anggota tim bukan semata-mata sebagai atasan, melainkan juga sebagai teman yang dapat memahami dan memperhatikan mereka.

“14 tahun saya memimpin BCA itu support-nya luar biasa dan kerja sama mereka begitu, dan mereka pun berusaha menularkan itu ke bawah. Saya selalu berusaha memanage bukan sebagai bos, sebagai teman. Bagaimana kita memenangkan hati mereka,” kata Jahja, sebagaimana Olenka kutip dari akun OJK, Senin (19/10/2026).

Jahja mencontohkan, ketika masih menjabat sebagai presiden direktur, dirinya memiliki sekitar 80 orang yang berhubungan langsung dengannya. Mereka terdiri atas jajaran direksi, kepala divisi, hingga kepala wilayah.

Jahja pun berusaha membangun kedekatan dengan para pemimpin tersebut melalui perhatian terhadap hal-hal sederhana, termasuk hari ulang tahun mereka.

Saat usianya masih di bawah 65 tahun, Jahja mengaku, dirinya terbiasa mengirimkan ucapan selamat ulang tahun tepat pukul 00.00 kepada anggota timnya.

Baginya, perhatian personal semacam itu dapat memberikan kesan mendalam karena karyawan merasa diingat secara langsung oleh pimpinan tertinggi perusahaan.

“Dulu waktu saya umur 65 ke bawah, setiap tunggu jam 12 malam saya kirim ucapan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun mereka. Jam 12 malam teng, itu mereka rasanya bukan lain. Merasa disapa langsung dari number one,” tuturnya.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Terapkan Budaya Kerja Tanpa Rapat Larut Malam di BCA

Tak hanya melalui pesan, Jahja juga memberikan perhatian berupa bunga atau kue kecil saat anggota timnya berulang tahun. Menurutnya, gestur sederhana tersebut dapat membuat karyawan merasa dihargai dan diperhatikan oleh pemimpinnya.

“Kemudian saya juga kirimkan bunga, kirimkan kue kecil pada waktu ulang tahun. Itu waduh, kebanggaan mereka itu luar biasa. Mereka merasa diperhatikan, di-wongke,” kata Jahja.

Istilah ‘di-wongke’ yang digunakan Jahja menggambarkan bagaimana seseorang diperlakukan sebagai manusia yang dihargai dan diperhatikan. Baginya, hubungan kerja yang kuat tidak cukup dibangun melalui pembagian tugas dan pencapaian target, tetapi juga melalui kepedulian terhadap orang-orang yang menjalankan pekerjaan tersebut.

Kepedulian itu, menurut Jahja, semakin terasa ketika pandemi Covid-19 melanda. Pada masa tersebut, ia berusaha membantu anggota tim yang membutuhkan pertolongan, termasuk ketika mereka harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

“Waktu Covid, berapa banyak yang saya tolong masukkan rumah sakit. Saya ada direct line langsung, kalau ada yang sakit atau apa, saya sapa. Itu rasanya luar biasa,” imbuhnya.

Bagi Jahja, pendekatan kepemimpinan seperti ini bukan sesuatu yang semata-mata dipelajari dari buku atau teori manajemen. Ia justru membangun prinsip tersebut dari pengalaman langsung selama memimpin dan berinteraksi dengan timnya.

“Jadi dengan memanage seperti itu, itu enggak ada di textbook. Tetapi saya merasakan sendiri, sehingga kerja sama itu terbentuk dengan seperti itu,” tandas Jahja.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Ungkap Tantangan Mendelegasikan Tugas kepada Tim