Aksi mundur berjamaah yang dilakukan oleh Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta sejumlah pejabat OJK pada Jumat (30/1/2026) kemarin mengejutkan publik.

Bukan hanya satu, melainkan lima petinggi BEI-OJK kompak mundur pada hari yang sama sehingga memunculkan berbagai spekulasi mengenai latar belakang peristiwa tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi?

Direktur dan Founder Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai bahwa tekanan dari pemerintah turut melatarbelakangi aksi pengunduran diri tersebut.

Baca Juga: Wakil Ketua OJK Ikut Mundur, 5 Petinggi BEI-OJK Mundur Berjamaah dalam Sehari, Siapa Saja?

"Apa yang dilakukan Mahendra dan Inarno dkk adalah kritik langsung dan vulgar terhadap tekanan dari Presiden," jelas Bhima kepada redaksi Olenka, Jumat (30/2026).

Tekanan tersebut, lanjut Bhima, terutama berkaitan dengan rencana pemerintah untuk mengubah porsi investasi asuransi dan dana pensiun (dapen) di pasar saham secara signifikan, yakni dari semula sekitar delapan persen menjadi 20 persen. Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi untuk menempatkan dana asuransi dan dana pensiun pada risiko tinggi.

Baca Juga: Susul Dirut BEI, Tiga Bos OJK Putuskan Mundur: Dari Mahendra Siregar hingga Inarno Djajadi

"Sepertinya ada tekanan dari eksekutif, dari Presiden terutama. Seolah asuransi dan dapen mau dikorbankan untuk menahan keluarnya modal asing," tegas Bhima.

Bhima mengungkapkan kekhawatirannya akan muncul kembali kasus serupa dengan gagal bayar Asabri apabila dana-dana tersebut diarahkan ke saham-saham spekulatif di pasar modal. Menurutnya, langkah tersebut dapat mengorbankan kepentingan jangka panjang peserta asuransi dan dana pensiun.

Ia menambahkan, situasi yang terjadi di pasar keuangan Indonesia saat ini berpotensi untuk menimbulkan gejolak pada perekonomian nasional. Ia menyebut fenomena yang terjadi sebagai bentuk elite cracking.

"Ini menunjukkan kerapuhan dan hilangnya independensi dari lembaga otoritas keuangan. Ini masalah yang cukup serius," ungkap Bhima.