Bagi sebagian besar perempuan, istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) tentu sudah tidak asing lagi.
Gangguan hormonal ini diperkirakan memengaruhi 10–15% perempuan usia reproduktif di seluruh dunia. Namun, sejak Mei 2026, dunia medis resmi meninggalkan istilah tersebut.
Berdasarkan kesepakatan para ahli yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet, PCOS kini resmi berganti nama menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS).
Mengapa Nama PCOS Harus Diganti?
Perubahan nama ini bukan tanpa alasan kuat. Istilah lama dinilai menyesatkan karena terlalu berfokus pada kata “kista” di ovarium.
Faktanya, perempuan dengan kondisi ini tidak memiliki kista sejati, melainkan jumlah folikel (sel telur) yang lebih banyak dari normal akibat gangguan ovulasi.
Istilah baru, PMOS, dinilai jauh lebih akurat secara ilmiah. Nama ini menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan sekadar gangguan reproduksi semata, melainkan gangguan kompleks yang melibatkan sistem hormonal luas (poliendokrin) dan sistem metabolik.
Baca Juga: Jangan Sepelekan Pola Makan, Dokter Sebut Kebiasaan Ini Berpotensi Memicu PCOS
Tiga Pilar Utama dan Risiko yang Sering Terabaikan
Penegakan diagnosis PMOS mengacu pada kriteria Rotterdam, di mana pasien harus memenuhi setidaknya dua dari tiga pilar utama berikut:
- Gangguan Haid: Siklus tidak teratur (lebih dari 35 hari sekali), amenorea (haid berhenti total), hingga perdarahan abnormal.
- Kadar Hormon Androgen Tinggi: Ditandai dengan hirsutisme (tumbuhnya rambut kasar di wajah/dada), jerawat membandel di rahang, hingga kerontokan rambut (alopecia).
- Gambaran USG Ovarium: Terdapat 20 atau lebih folikel kecil berukuran 2–9 mm yang tersusun menyerupai rangkaian mutiara (String of Pearls).
Sayangnya, hingga 50% kasus PMOS sering tidak terdiagnosis karena banyak perempuan menganggap remeh siklus haid yang tidak teratur.
Padahal, mengabaikan PMOS berisiko memicu dampak jangka panjang yang serius, mulai dari resistensi insulin, diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi.