Limbah linen bekas hotel biasanya berakhir menjadi barang yang tak terpakai. Namun, Mexolie Hotel Kebumen melihatnya dari sisi berbeda. Kain-kain bekas tersebut justru disulap menjadi karya kriya cantik yang punya nilai ekonomi.

Lewat kegiatan bertajuk “Pelatihan Eco-Tik (Ecoprint Batik): Upcycle Kain Linen Hotel Menjadi Karya Seni”, Mexolie Hotel Kebumen mengajak 50 warga sekitar belajar mengolah linen bekas menjadi produk ecoprint.

Kegiatan yang digelar pada Minggu (27/9/2026) tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun ke-9 Mexolie Hotel Kebumen. Program ini sekaligus menjadi langkah hotel untuk mengurangi limbah tekstil sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Dalam pelatihan tersebut, kain linen yang sudah tidak digunakan, seperti seprai dan selimut, diberikan sentuhan baru menggunakan teknik ecoprint. Peserta memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti daun jarak, daun ketapang, hingga sulur bunga air mata pengantin atau Antigonon leptopus.

Baca Juga: PT JIEP dan PALJAYA Sinergi Tingkatkan Kualitas Pengelolaan Air Limbah

General Manager Mexolie Hotel Kebumen, Setiawan Hadi Saputro, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen hotel agar keberadaannya dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

“Mexolie Hotel tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat menginap atau transit bagi pelancong dan pelaku bisnis semata. Komitmen kami adalah menjadikan hotel ini sebagai motor penggerak yang memberi manfaat ekonomi langsung, konkret, dan berkelanjutan bagi warga masyarakat di sekitar kami,” ujar Setiawan.

Program ini digelar bersama Designer’s Model Community (DMC) dan komunitas ecoprint Kebumen, Tlutuh Luk Ulo. Selain mendapatkan keterampilan baru, warga juga berkesempatan mengembangkan hasil karya tersebut menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Karya-karya Eco-Tik hasil pelatihan rencananya akan dipamerkan menjelang Hari Batik Nasional yang diperingati pada Oktober 2026. Dengan begitu, hasil kreativitas warga tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi berpotensi berkembang menjadi produk ekonomi kreatif.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen, Kamla Nugraheni, mengatakan perkembangan ekonomi kreatif memiliki kontribusi terhadap perekonomian daerah.

“Kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian lokal sangat besar dan terus tumbuh. Keseriusan ini ditandai dengan pengesahan Perda Pengembangan Ekonomi Kreatif baru-baru ini, bahkan Pemerintah Kabupaten Kebumen telah menyiapkan langkah strategis untuk menjadikan Ekonomi Kreatif sebagai dinas mandiri tersendiri pada tahun depan,” kata Kamla.

Baca Juga: Lewat Karya Kreatif Indonesia 2026, BI Gaungkan Pengolahan Limbah untuk Ciptakan Nilai Tambah Ekonomi

Pengembangan ekonomi kreatif juga dinilai semakin relevan dengan potensi pariwisata Kebumen. Berdasarkan data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, lebih dari 675 ribu wisatawan tercatat berkunjung ke Kebumen selama periode libur panjang.

Bagi Mexolie Hotel, pengelolaan limbah bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, hotel tersebut telah menjalankan program pengolahan sampah organik dengan memanfaatkan Black Soldier Fly (BSF) atau maggot melalui kerja sama dengan tempat pembuangan sampah (TPS) setempat.

Kini, perhatian diperluas ke limbah tekstil melalui pemanfaatan linen bekas. Tak sekadar mengurangi sampah, program Eco-Tik diharapkan dapat membuat limbah yang sebelumnya tak bernilai menjadi karya kreatif yang berpotensi menghasilkan cuan bagi masyarakat.