Aksi aktivis Greenpeace memanjat Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026), menarik perhatian publik. Dengan menggunakan Single Rope Technique (SRT), para aktivis melakukan aksi protes untuk menyoroti krisis iklim, kebakaran hutan, serta kenaikan biaya hidup yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Penggunaan teknik tali dalam aksi tersebut turut memunculkan pertanyaan tentang bagaimana seseorang dapat memanjat bangunan atau struktur tinggi dengan mengandalkan tali dan peralatan khusus. Dalam kegiatan seperti akses tali (rope access), SRT merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk membantu pergerakan vertikal dengan sistem tali, perangkat pengaman, dan prosedur keselamatan yang sesuai.

Apa Itu Single Rope Technique (SRT)?

Melansir dari berbagai sumber pada Rabu (21/10/2026), SRT merupakan metode bergerak naik dan turun pada medan vertikal dengan satu utas tali statis. Teknik ini umumnya digunakan dalam kegiatan penelusuran gua serta industri perawatan gedung tinggi.

Baca Juga: 4 Organisasi yang Aktif Menyuarakan Karhutla Selain Greenpeace

Dalam praktiknya, penanjak bergerak naik menggunakan kombinasi alat mekanis khusus, seperti ascander untuk memanjat tali dan descender untuk mengontrol kelajuan saat turun, yang terhubung harness atau alat pengaman tubuh.

Dalam penerapannya, tim teknis Greenpeace mengandalkan serangkaian perangkat keselamatan bersertifikasi tinggi. Pemanjat menggunakan full-body harness yang terhubung ke tali statis melalui alat penaik (ascander) seperti jumar dan chestascender (SCROL). Untuk proses turun, mereka menggunakan alat penurun (descender)

Faktor Keamanan dan Keterampilan Khusus

Memanjat monumen bersejarah seperti Patung HI tidak sekadar membutuhkan keberanian, melainkan prediksi fisik dan mekanis yang sangat presisi. Sebelum aksi berlangsung, tim pendahulu bertugas menentukan titik tumpu yang aman tanpa merusak struktur atau material fisik monumen cagar budaya tersebut.

Baca Juga: Sejarah Greenpeace: Berawal dari Aksi Menentang Uji Coba Nuklir hingga Mendunia

Menurut kesaksian mantan relawan Greenpeace, anggota divisi tersebut memahami teknik rope access atau akses menggunakan tali untuk menjangkau lokasi tinggi. Keterampilan tersebut berkaitan dengan kemampuan bergerak di ketinggian sekaligus memperhatikan perlengkapan keselamatan, seperti helm dan life jacket. Bukan sekadar berani memanjat. 

Tantangan di lapangan semakin kompleks karena aksi tersebut dilakukan di pusat keramaian ibu kota, di mana faktor angin, cuaca, serta kecepatan durasi pemasangan menjadi penentu keberhasilan misi sebelum dihentikan oleh petugas keamanan.

Imbauan Keamanan dari Pihak Greenpeace

Setelah spanduk berhasil dipasang selama beberapa jam dan pesan lingkungan tersampaikan ke publik, para aktivis turun dengan aman menggunakan metode rapping sebelum akhirnya diamankan oleh pihak kepolisian untuk diperiksa.

Greenpeace menegaskan bahwa seluruh personel yang terlibat dalam pemanjatan vertikal ini telah melalui pelatihan bersertifikasi dan jam terbang yang tinggi. Pihaknya mengimbau masyarakat umum untuk tidak meniru atau mencoba teknik SRT tanpa pendampingan instruktur profesional serta peralatan standar keselamatan yang memadai.