Growthmates, kesemutan pada tangan setelah terlalu lama menggunakan ponsel kerap dianggap sebagai hal sepele. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda tubuh membutuhkan jeda, terutama jika kesemutan berlangsung lama dan tidak kunjung menghilang.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, mengatakan, kesemutan yang muncul setelah tangan berada dalam posisi tertentu selama menggunakan ponsel dapat terjadi karena penggunaan yang terlalu lama. Namun, masyarakat perlu memperhatikan durasi dan apakah keluhan tersebut segera membaik atau justru menetap.

“Saya kan sering buka HP, karena WA-nya ada grup saya banyak banget. Ya ampun ada yang udah 100 sebelum saya buka, jadi saya buka asyik. Kemudian kok tangan saya agak semutan,” kata Prof. Zubairi, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Selasa (29/9/2026).

Prof. Zubairi mencontohkan, seseorang bisa tidak menyadari telah menggunakan ponsel selama berjam-jam karena terlalu asyik membaca atau mengikuti berbagai informasi. Ketika akhirnya melepaskan ponsel, barulah kesemutan terasa cukup kuat.

“Kalau amat sangat lama, iya itu wajar semutan sebentar nanti hilang. Tetapi kalau semutannya enggak hilang-hilang, itu memang perlu ke dokter. Penyebabnya bisa neuritis perivir, bisa juga yang lain,” imbuhnya.

Menurut Prof. Zubairi, keluhan tersebut menjadi semakin penting diperhatikan pada kelompok usia lanjut. Selain memperhatikan kondisi tangan, kebiasaan menggunakan ponsel terlalu lama juga perlu diimbangi dengan aktivitas fisik.

“Jadi apalagi untuk usia lanjut. Pada prinsipnya, baca HP terlalu lama itu tidak sehat. Apalagi kalau baca kan kita duduk,” tuturnya.

Prof. Zubairi lantas mengingatkan bahwa persoalannya bukan semata-mata penggunaan ponsel, melainkan kebiasaan duduk dalam waktu lama tanpa diselingi aktivitas fisik. Karena itu, ia menyarankan agar penggunaan ponsel diselingi dengan berdiri dan bergerak.

“Kalau kita duduk udah setengah jam baca, taruh dulu, kemudian berdiri sebentar. Kalau kita bacanya seru banget atau sudah sejam, maka tidak cukup berdiri, harus jalan-jalan sekuatnya,” jelasnya.

Durasi berjalan pun tidak harus panjang. Menurut Prof. Zubairi, berjalan selama beberapa menit sudah lebih baik daripada terus duduk dalam posisi yang sama.

“Mau lima menit, mau setengah jam, itu bagus. Tapi lima-sepuluh menit juga cukup, kemudian duduk lagi,” katanya.

Baca Juga: Dokter Jantung Ungkap Cara Mengukur Intensitas Olahraga Tanpa Smartwatch

Lebih lanjut, Prof. Zubairi menekankan bahwa ponsel pada dasarnya memiliki banyak manfaat, mulai dari memperoleh informasi hingga menjaga komunikasi dan silaturahmi. Namun, manfaat tersebut tetap perlu diimbangi dengan kesadaran untuk tidak terlalu lama berada dalam posisi duduk.

“Jadi HP itu banyak manfaatnya, banyak informasi di sini, bagus untuk komunikasi, bagus untuk silaturohim. Tetapi ada juga efek sampingnya,” tukas Prof. Zubairi.

Menurutnya, terlalu lama duduk dan kurang bergerak bukan hanya berkaitan dengan keluhan seperti kesemutan. Kebiasaan sedentari juga telah dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular.

“Efek samping yang pertama, untuk beberapa orang tadi semutan, untuk orang yang lain, duduk lama ternyata memudahkan kita muncul stroke ataupun jantung,” katanya.

Karena itu, Prof. Zubairi mendorong masyarakat untuk tidak menjadikan aktivitas menggunakan ponsel sebagai alasan untuk terus duduk dalam waktu lama. Ia mengajak masyarakat membiasakan diri untuk tetap aktif bergerak di sela-sela aktivitas sehari-hari.

“Yang karena itu saran sekarang adalah keep moving,” tegasnya.

Selain mengurangi waktu duduk, aktivitas olahraga secara rutin juga penting. Prof. Zubairi menyarankan masyarakat memenuhi sekitar 150 menit aktivitas fisik dalam satu minggu.

“Olahraga itu penting banget. Usahakan minimal 150 menit per minggu, jadi enggak terlalu lama. Kira-kira hanya setengah jam sehari,” ujarnya.

Menurut dia, meluangkan waktu sekitar setengah jam setiap hari untuk berolahraga relatif kecil dibandingkan dengan total waktu yang tersedia dalam sehari, tetapi dapat memberikan manfaat bagi kesehatan fisik.

“Dan sehari kita kan punya 24 jam. Jadi dikurangi setengah jam itu manfaatnya banyak banget untuk olahraga terhadap kesehatan fisik dan tidak terlalu merugikan karena hanya setengah jam dari total sehari 24 jam,” pungkas Prof. Zubairi.

Baca Juga: Kapan Demam Perlu Minum Paracetamol? Begini Penjelasan Dokter Ahli