Di tengah angka pernikahan di Indonesia yang terus menurun, cara para singles mencari pasangan juga ikut mengalami perubahan. Aplikasi kencan yang sebelumnya menawarkan kemudahan menemukan calon pasangan kini justru mulai ditinggalkan sebagian pengguna karena dianggap melelahkan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah pernikahan di Indonesia berada di level terendah dalam satu dekade terakhir, turun dari sekitar 2,1 juta menjadi 1,47 juta. Penurunan juga terlihat di sejumlah wilayah perkotaan.

Dalam Statistik Pemuda Indonesia, BPS mencatat sebanyak 81,36 persen pemuda di DKI Jakarta masih berstatus belum menikah.

Di tengah kondisi tersebut, muncul fenomena dating app fatigue atau kelelahan menggunakan aplikasi kencan. Fenomena ini terlihat ketika singles mulai merasa jenuh dengan proses mencari pasangan melalui aplikasi, mulai dari swipe, mencocokkan profil, bertukar pesan, hingga berulang kali memulai percakapan dengan orang baru.

Lunch Actually, biro jodoh yang berbasis di Asia, melihat fenomena tersebut mulai terasa di kalangan singles Indonesia, khususnya pekerja kantoran di kota-kota besar.

Baca Juga: Memahami Fenomena 'Checklist Fatigue': Rasa Lelah saat Mencari Pasangan yang Cocok, Kamu Merasakannya?

CEO dan Co-Founder Lunch Actually, Violet Lim, mengatakan singles sebenarnya tidak kehilangan keinginan untuk menemukan pasangan. Mereka justru mulai lelah dengan cara mencari pasangan yang dianggap terlalu bergantung pada algoritma.

“Kita sedang menyaksikan aksi 'mogok aplikasi kencan' secara besar-besaran di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta,” kata Violet dalam keterangannya, Sabtu (03/10/2026).

Menurut dia, terlalu banyak pilihan di aplikasi kencan justru dapat membuat proses menemukan pasangan terasa seperti memilih dari sebuah katalog.

“Para singles di Indonesia bukan tidak percaya pada cinta; mereka hanya menyerah pada algoritma yang ada. Mereka lelah dengan hubungan yang tidak serius dan lingkungan yang menganggap koneksi layaknya sebagai katalog digital,” ujarnya.

Fenomena tersebut sebelumnya juga menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai dating app fatigue di kalangan anak muda Indonesia. Salah satu pemicunya adalah kecenderungan pengguna memasang terlalu banyak kriteria saat memilih calon pasangan, sehingga proses mencari hubungan dapat berubah menjadi aktivitas yang menguras energi.

Banyaknya pilihan memang membuat pencarian pasangan terasa lebih mudah di awal. Namun, di sisi lain, pengguna juga dapat terus membandingkan satu profil dengan profil lainnya dan merasa masih ada pilihan yang lebih sesuai.

Kondisi itu berbeda dengan cara konvensional ketika seseorang bertemu calon pasangan melalui teman, lingkungan pekerjaan, komunitas, atau kegiatan sosial. Pertemuan secara langsung memberikan kesempatan untuk melihat chemistry tanpa harus melewati proses penyaringan profil yang panjang.

Namun, cara tradisional juga memiliki tantangan. Bagi pekerja perkotaan yang menghabiskan banyak waktu untuk pekerjaan, kesempatan bertemu orang baru secara alami semakin terbatas.

Ketika Singles Mulai Mencari Koneksi Nyata

Di antara dua pilihan tersebut, muncul pendekatan hybrid matchmaking yang mencoba menggabungkan efisiensi teknologi dengan pengalaman pertemuan langsung.

Pendekatan ini digunakan Lunch Actually dengan melakukan proses kurasi calon pasangan berdasarkan profil, nilai hidup, serta tujuan hubungan klien. Setelah menemukan kecocokan, calon pasangan kemudian dipertemukan secara langsung.

Dengan pola tersebut, singles tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menyaring sendiri ratusan profil di aplikasi maupun menjalani percakapan panjang sebelum mengetahui apakah ada kecocokan secara langsung.

Sementara itu, teknologi tetap digunakan untuk membantu proses administratif seperti menyeleksi profil, mengatur jadwal, hingga menyiapkan kebutuhan pertemuan.

“Teknologi biarlah mengurus hal-hal teknis, tetapi insting manusia yang harus menilai chemistry dalam mencari pasangan,” ujar Violet.

Menurutnya, pertemuan langsung tetap menjadi bagian penting karena hubungan tidak hanya ditentukan oleh kesamaan profil atau algoritma.

Baca Juga: Cara Menghindari Konflik saat Menjalankan Bisnis Bersama Pasangan Menurut Business Coach

“Kami mengkurasi dan merencanakan jadwal, sehingga klien kami di Indonesia cukup datang, duduk santai, dan fokus membangun koneksi yang nyata,” katanya.

Fenomena dating app fatigue pada akhirnya menunjukkan adanya perubahan dalam cara sebagian singles memandang teknologi untuk urusan mencari pasangan. Ketika aplikasi menawarkan semakin banyak pilihan, sebagian pengguna justru mulai mencari proses yang lebih terarah dan memberi ruang lebih besar untuk koneksi secara langsung.

Sementara penurunan angka pernikahan nasional merupakan fenomena yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi, pendidikan, karier hingga keputusan personal, perubahan pola pencarian pasangan menjadi salah satu dinamika yang ikut mewarnai kehidupan singles di perkotaan.

Bagi mereka yang mulai jenuh dengan proses swipe dan percakapan tanpa kepastian, pertemuan secara langsung kembali menjadi salah satu pilihan untuk menemukan hubungan yang lebih serius.