Tekanan besar tengah melanda pasar modal Indonesia hingga sempat membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh ke bawah level 5.000. Merespons kondisi tersebut, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memutuskan untuk melanjutkan aksi pembelian kembali (buyback) saham BCA pada 19–21 Oktober 2026.

Manajemen BCA mengatakan bahwa buyback saham tersebut menjadi bagian dari wujud optimisme atas fundamental bisnis perseroan sekaligus untuk mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia. Dalam kesempatan yang sama disampaikan juga bahwa aksi korporasi ini merupakan lanjutan dari realisasi program buyback saham yang sebelumnya dilaksanakan pada April dan Juni 2026 yang lalu.

Baca Juga: Luar Biasa! Kredit BCA Tumbuh Double Digit, Pembiayaan ke UKM di Atas Rata-rata Industri

"Buyback juga menjadi wujud keyakinan BCA atas fundamental bisnis Perseroan, sekaligus untuk mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia," tulis manajemen BCA dalam keterbukaan informasi, dikutip pada Rabu (21/10/2026).

Perihal keputusan buyback saham yang berlanjut ini, BCA telah mendapat persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang diselenggarakan pada 12 Maret 2026.

Berdasarkan keputusan RUPST tersebut, periode pelaksanaan program buyback adalah 12 bulan, yaitu sejak tanggal 12 Maret 2026 sampai dengan 11 Maret 2027, kecuali diakhiri lebih cepat oleh perseroan dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan.

BCA menegaskan, pihaknya senantiasa mematuhi prinsip good corporate governance (GCG) dan mematuhi segala peraturan dan ketentuan yang berlaku.

"BCA senantiasa mematuhi prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan mematuhi segala peraturan dan ketentuan yang berlaku," tambahnya.

Untuk diketahui, hingga akhir Juni 2026, BCA dan entitas anak membukukan laba bersih sebesar Rp29,5 triliun, tumbuh tipis dibandingkan Rp28,5 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.

Kredit tumbuh 8% yoy mencapai Rp1.036 triliun, sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 7,9% (yoy) mencapai Rp1.284 triliun.