Warren Buffett pernah menyampaikan kekhawatirannya terhadap masa depan dolar AS. Dalam rapat pemegang saham Berkshire Hathaway pada Mei 2025, investor kawakan tersebut menyoroti risiko kebijakan fiskal pemerintah Amerika Serikat yang dinilainya dapat menggerus nilai mata uang dalam jangka panjang.

Buffett mengatakan Berkshire Hathaway tidak ingin memiliki aset dalam mata uang yang menurutnya berpotensi mengalami pelemahan serius.

“Kami tidak ingin memiliki apa pun yang kami yakini berada dalam mata uang yang benar-benar menuju kehancuran. Dan itulah hal besar yang kami khawatirkan terhadap mata uang Amerika Serikat,” ujar Buffett dalam pertemuan tersebut.

Baca Juga: Bukan Cuma Soal Suksesi, Ini 7 Pelajaran Kepemimpinan dari Warren Buffett

Pernyataan itu bukan berarti Buffett mengatakan dolar AS akan segera mengalami kehancuran. Kekhawatirannya lebih berkaitan dengan kecenderungan pemerintah membiarkan defisit dan utang terus meningkat, yang pada akhirnya dapat menekan nilai mata uang.

“Kebijakan fiskal adalah hal yang membuat saya khawatir di Amerika Serikat,” kata Buffett. Ia juga menilai kebijakan fiskal AS berada dalam kondisi yang tidak berkelanjutan jika berlangsung dalam jangka panjang.

Utang AS Tembus US$40 Triliun

Kekhawatiran tersebut kembali menjadi sorotan setelah kondisi fiskal AS terus memburuk. Hingga 11 bulan pertama tahun fiskal 2026, pemerintah AS mencatat defisit sekitar US$1,97 triliun. Sementara itu, total utang nasional AS telah menembus US$40 triliun.

Masalahnya bukan hanya besarnya utang, tetapi juga dampaknya terhadap daya beli mata uang. Data kalkulator inflasi Federal Reserve Bank of Minneapolis menunjukkan US$100 pada 2026 memiliki daya beli yang setara dengan sekitar US$11,61 pada 1970.

Artinya, daya beli dolar AS telah mengalami penurunan sangat besar selama lebih dari lima dekade akibat inflasi.

Baca Juga: Mengapa Saham Apple Tetap Menjadi Investasi Favorit Warren Buffett?

Buffett sendiri pernah menyoroti kecenderungan pemerintah untuk menerbitkan uang dan dampaknya terhadap nilai mata uang.

“Kecenderungan alami pemerintah adalah membuat mata uang menjadi semakin tidak bernilai dari waktu ke waktu,” ujarnya dalam pertemuan Berkshire Hathaway tersebut, dikutip Senin (28/09/2026).

Lalu, Bagaimana Cara Melindungi Kekayaan?

Kekhawatiran terhadap inflasi dan pelemahan mata uang membuat sejumlah investor mempertimbangkan aset yang nilainya tidak hanya bergantung pada uang tunai.

Salah satu yang kerap digunakan sebagai aset pelindung nilai adalah emas. Logam mulia memiliki pasokan terbatas dan secara historis sering digunakan investor sebagai salah satu instrumen untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dan inflasi.

Selain emas, properti juga menjadi salah satu aset yang sering dipertimbangkan karena menghasilkan nilai melalui kepemilikan aset sekaligus pendapatan sewa.

Namun, Buffett sendiri tidak menyarankan investor untuk meninggalkan aset-aset produktif Amerika Serikat hanya karena kekhawatiran terhadap dolar.

Justru, pendekatan Buffett selama ini menekankan kepemilikan bisnis produktif yang mampu menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang.

Dalam rapat pemegang saham Berkshire Hathaway, Buffett juga menyampaikan pandangannya bahwa bagi banyak investor, memiliki dana indeks S&P 500 merupakan pilihan yang masuk akal.

Dengan demikian, kekhawatiran Buffett terhadap dolar tidak serta-merta berarti investor harus menghindari seluruh aset berbasis dolar. Pesan utamanya justru berkaitan dengan risiko inflasi, kebijakan fiskal, dan pentingnya memiliki aset produktif yang dapat mempertahankan nilai kekayaan dalam jangka panjang.

Bagi investor ritel, pilihan instrumen investasi tetap perlu disesuaikan dengan tujuan, jangka waktu, toleransi risiko, serta kondisi keuangan masing-masing.