Di dunia otomotif, nama Sean Gelael sudah tak asing lagi. Ia dikenal sebagai pembalap mobil asal Indonesia sekaligus cucu dari konglomerat ternama. Namun, kiprah Sean ternyata tak terbatas di lintasan balap. Tunangan Hana Malasan ini juga mulai menjajal dunia perfilman.
Beberapa waktu lalu, Sean diketahui terlibat dalam proyek film Ku Peluk Kamu Selamanya. Film drama keluarga tersebut menjadi debutnya sebagai produser eksekutif bersama Angga Dwimas. Film ini juga menghadirkan sejumlah bintang ternama, termasuk Hana Malasan, sang pujaan hati yang berperan sebagai ibu tunggal.
Terlepas dari kiprahnya di dunia balap dan perfilman, berikut Olenka rangkum dari berbagai sumber untuk mengenal lebih jauh sosok dan perjalanan karier Sean Gelael, Minggu (11/10/2026).
Baca Juga: Mengenal Sosok dan Jejak Karier Aktor Senior Pritt Timothy
Profil Sean Gelael
Muhammad Sean Ricardo Gelael lahir di Jakarta pada 1 November 1996. Ia merupakan putra dari Ricardo Gelael, pengusaha sekaligus mantan pembalap, dan RA Sri Sudarini, seorang artis senior. Sean juga merupakan cucu Dick Gelael, pendiri KFC Indonesia.
Sean pernah bersekolah di SD Montessori Pondok Indah dan SD serta SMP Cita Buana di Jakarta. Pada 2014, ia melanjutkan studi di University of Bath, Inggris, dengan mengambil jurusan Business Finance.
Perihal kehidupan pribadinya, Sean tampaknya akan membawa hubungannya dengan aktris Hana Malasan ke jenjang pernikahan.
Lihat postingan ini di InstagramSebuah kiriman dibagikan oleh Hana Pitrashata Malasan (@hanamalasan)
Setelah mulai terbuka soal hubungan mereka pada April 2024, Sean melamar Hana secara pribadi di Sumba pada Oktober 2025. Keduanya kemudian menggelar acara lamaran bersama keluarga secara intim di Bandung, pada 15 Agustus 2026.
Karier di Dunia Balap
Sean Gelael memulai perjalanan balapnya sejak 2005. Saat itu, ia menjadi navigator bagi sang ayah, Ricardo Gelael, dalam ajang Kejurnas Reli Sprint. Empat tahun kemudian, Sean mulai menjajal gokart di kelas Rotax Max Junior sebelum akhirnya fokus menekuni balapan tersebut pada 2010.
Pada 2011, Sean mulai berlaga di ajang gokart internasional. Kariernya kemudian berkembang ke Eropa. Pada 2013, ia turun di Kejuaraan Formula 3 Eropa selama dua musim sebelum beralih ke Formula Renault 3.5 pada 2015. Di tahun yang sama, Sean juga mulai mengikuti GP2 Series dan Asian Le Mans Series.
Pada 2016, Sean bergabung dengan Campos Racing untuk berlaga penuh di GP2 Series. Ia juga menjajal balapan ketahanan melalui European Le Mans Series bersama SMP Racing dan FIA World Endurance Championship (WEC) bersama Extreme Speed Motorsports.
Setahun kemudian, Sean bergabung dengan Pertamina Arden untuk berkompetisi di Formula 2. Ia juga dipercaya menjadi pembalap tes Scuderia Toro Rosso, tim Formula 1 yang kini dikenal sebagai Racing Bulls. Sean mengikuti sesi tes di Bahrain dan Hungaria, serta mendapat kesempatan untuk terlibat dalam sejumlah agenda tim.
Pada 2018, Sean pindah ke Prema Racing dan berduet dengan Nyck de Vries. Salah satu hasil terbaiknya musim itu adalah finis di posisi kedua pada balapan utama Formula 2 di Monako. Pada 2019, ia kembali membela Prema Racing dengan rekan setim Mick Schumacher dan mengakhiri musim di peringkat ke-17 klasemen pembalap.
Baca Juga: Mengenang Sosok Dick Gelael, Pengusaha Legendaris Pendiri KFC Indonesia
Sean kemudian bergabung dengan DAMS pada 2020. Namun, cedera yang dialaminya di Catalunya membuat ia harus absen dan digantikan oleh Juri Vips. Musim tersebut menjadi tahun terakhir Sean di Formula 2 setelah lima musim berkompetisi di ajang tersebut.
Setelah meninggalkan Formula 2, Sean semakin fokus pada balap ketahanan. Pada 2021, ia membela Jota Sport di kelas LMP2 dan berhasil finis sebagai runner-up di FIA World Endurance Championship, Asian Le Mans Series, serta kelas LMP2 Le Mans 24 Jam.
Prestasinya berlanjut pada 2022 bersama Team WRT. Sean meraih kemenangan pertamanya di WEC setelah menjuarai balapan 6 Hours of Spa-Francorchamps. Sepanjang musim, ia mencatatkan tiga kemenangan dan mengakhiri kejuaraan di posisi kedua kelas LMP2.
Pada awal 2023, Sean kembali memperkuat Team WRT dalam ajang Dubai 24 Jam. Ia berkolaborasi dengan Valentino Rossi, juara dunia balap motor tujuh kali, serta dua pembalap lainnya dengan mengendarai BMW M4 GT3. Tim mereka menutup balapan dengan finis di posisi ketiga.
Memasuki 2025, Sean kembali mencatatkan hasil positif di FIA World Endurance Championship. Bersama United Autosports, ia berhasil merebut posisi pole dan hyperpole dalam sesi kualifikasi seri pembuka musim tersebut.
Masuk Daftar Fortune Indonesia 40 Under 40
Di luar arena balap, Sean Gelael juga mendapat apresiasi atas pencapaiannya. Pada 2025, namanya terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan Fortune Indonesia 40 Under 40, sebuah daftar yang menyoroti 40 anak muda Indonesia berpengaruh dari berbagai bidang dan belum berusia 40 tahun per 31 Desember 2024.
Penghargaan tersebut turut menandai kiprah Sean dalam mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Melalui berbagai kompetisi balap yang diikutinya, ia terus menunjukkan kemampuan dan konsistensinya di dunia otomotif.
Terjun ke Layar Lebar
Sean Gelael mulai menjajal industri perfilman Indonesia melalui film Ku Peluk Kamu Selamanya yang sudha tayang sejak 30 April 2026 lalu. Dalam proyek ini, ia berkolaborasi dengan Angga Dwimas Sasongko sebagai produser eksekutif.
Film tersebut mengangkat kisah perjuangan orang tua tunggal dalam membesarkan anak di tengah berbagai keterbatasan.
Baca Juga: Berkenalan dengan Aktor Arbani Yasiz, Intip Jejak Kariernya di Dunia Akting
Ceritanya berfokus pada Naya (Hana Malasan), seorang ibu yang berusaha berdamai dengan kehidupan, serta putranya, Aksa (Jared Ali), yang memiliki penyakit bawaan sejak lahir. Setelah berpisah dari suaminya (Ibnu Jamil) yang kemudian menikah lagi, Naya harus menghadapi berbagai ujian, baik dalam perannya sebagai ibu maupun sebagai individu.
Melalui kisah ini, Ku Peluk Kamu Selamanya mengajak penonton memahami perjuangan seorang ibu dalam menghadapi situasi sulit sekaligus menemukan makna cinta tanpa syarat.
Sean juga memandang bahwa cerita tersebut tidak menempatkan siapa pun sebagai tokoh antagonis, sebab kehidupan nyata tidak selalu terbagi dalam dua sisi yang sepenuhnya benar atau salah.