Menghadirkan film yang menarik bagi penonton sekaligus menyampaikan pesan bermakna menjadi salah satu tantangan dalam industri perfilman. Di balik sebuah karya, pembuat film perlu meramu cerita, menentukan pendekatan kreatif, hingga memahami bagaimana audiens menerima pesan yang ingin disampaikan.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi yang digelar Motion Picture Association (MPA) di Resident 2, Hotel Park Hyatt Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Sesi bertajuk “Refleksi dalam Pembuatan Konten Indonesia yang Menjadi Sorotan karena Daya Tarik Komersial dan Kritikalnya” menghadirkan sutradara Ghost in the Cell Joko Anwar, produser Gita Fara, dan eksekutif produser Sunil Samtani. Diskusi dimoderatori oleh Marissa Anita.

Joko Anwar: Hiburan sebagai Pintu Masuk Pesan Sosial

Joko Anwar menilai, sebuah film perlu memberikan pengalaman menonton yang menghibur sebelum mengajak audiens memikirkan pesan yang lebih dalam. Menurutnya, penonton yang datang ke bioskop telah meluangkan waktu dan biaya sehingga pembuat film perlu menghadirkan pengalaman yang sepadan.

“Kita sebagai pembuat film ingin berbicara tentang hal-hal yang kita anggap penting, tetapi kita harus memberikan hiburan terlebih dahulu kepada penonton. Apa pun yang ingin kita bicarakan harus berada di balik hiburan tersebut,” ujar Joko.

Baca Juga: Akan Tayang di 86 Negara, Ini 5 Alasan Kamu Wajib Nonton Film Ghost In The Cell

Pendekatan tersebut turut diterapkan Joko dalam film Ghost in the Cell. Melalui karya itu, ia mengangkat keresahannya terhadap hilangnya hutan Indonesia dan praktik korupsi yang menyertainya.

Joko memilih penjara sebagai latar cerita karena melihat tempat tersebut dapat menjadi gambaran kecil sebuah negara. Di dalamnya, terdapat pihak yang memiliki kewenangan dan kelompok yang berada di bawah aturan, sehingga dinamika yang terjadi dapat merefleksikan kondisi masyarakat.

“Penjara adalah versi ringkas dari sebuah negara. Ada pejabat penjara yang mewakili pemerintah, dan ada narapidana yang mewakili warga negara. Saya ingin menempatkan semuanya di dalam penjara untuk mencerminkan apa yang terjadi di masyarakat kita,” kata Joko.

Melalui cerita dan konflik yang dibangun, Joko berupaya menyisipkan kritik sosial tanpa mengesampingkan unsur hiburan. Dengan pendekatan tersebut, pesan yang ingin disampaikan tidak harus selalu hadir secara gamblang, tetapi dapat ditangkap penonton melalui alur dan pengalaman menyaksikan film.

Baca Juga: Street Fighter Kembali Hidupkan Nostalgia Gim Arcade Lewat Film Terbaru

Gita Fara Hadapi Tantangan Adaptasi Laut Bercerita

Sementara Joko Anwar berbicara tentang cara menyisipkan pesan sosial dalam film, produser Gita Fara membagikan pengalamannya mengadaptasi karya sastra ke layar lebar melalui film Laut Bercerita.

Film tersebut diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori, mantan jurnalis Tempo. Novel fiksi sejarah itu mengangkat gerakan mahasiswa pada 1998, penghilangan paksa aktivis, serta perjuangan keluarga dan orang-orang terdekat yang hingga kini masih mencari keberadaan mereka.

Menurut Gita, perjalanan proyek Laut Bercerita telah dimulai sekitar sembilan tahun lalu, ketika timnya membuat film pendek untuk peluncuran buku tersebut. Seiring waktu, novel itu tidak hanya menarik perhatian generasi yang mengalami langsung peristiwa 1998, tetapi juga dibaca oleh generasi Z.

Buku Laut Bercerita telah dicetak ulang lebih dari 125 kali dengan jumlah pembaca sekitar 1,5 juta orang. Besarnya basis pembaca tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika cerita novel diterjemahkan ke dalam format film.

Baca Juga: Main di Film ‘Warga Rusun 609, Yuk Intip Profil dan Jejak Karier Ranty Maria!

Pengembangan film panjangnya sendiri dimulai tiga tahun lalu dan kini telah rampung. Film yang disutradarai Yosep Anggi Noen itu dijadwalkan tayang pada pekan berikutnya.

Gita mengungkapkan, tantangan terbesar dalam proses adaptasi adalah merangkum cerita novel yang hampir mencapai 400 halaman ke dalam film berdurasi sekitar dua jam, tanpa menghilangkan esensi cerita aslinya.

“Tantangan terbesarnya adalah mengubah hampir 400 halaman novel ke dalam durasi dua jam film, sambil tetap setia kepada buku. Kami tahu sudah ada penggemar garis keras yang menunggu filmnya,” ujar Gita.

Tantangan tersebut membuat tim produksi perlu menjaga keseimbangan antara kesetiaan terhadap materi sumber dan kebutuhan bercerita melalui medium visual. Film juga harus dapat dinikmati oleh pembaca yang telah mengenal novelnya maupun penonton baru yang belum mengetahui kisah di balik Laut Bercerita.

Memahami Penonton dalam Pengembangan Konten

Selain proses kreatif dan adaptasi cerita, diskusi tersebut turut menyoroti pentingnya memahami preferensi audiens. Eksekutif produser Sunil Samtani mengatakan, timnya kerap menggelar diskusi kelompok terpumpun atau focus group discussion (FGD) dengan melibatkan peserta dari berbagai kelompok usia.

Melalui diskusi tersebut, tim dapat memperoleh gambaran mengenai respons dan selera penonton terhadap konten yang sedang dikembangkan. Pemahaman ini menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan pendekatan yang sesuai dengan audiens.

Sunil juga menilai platform streaming dan televisi memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan percakapan mengenai film. Kehadiran berbagai platform tersebut memberikan kesempatan bagi karya film untuk terus menjangkau penonton, termasuk setelah masa penayangannya di bioskop.

Diskusi yang digelar MPA tersebut juga mencakup pembahasan mengenai pengembangan kapasitas industri perfilman dan penanganan pembajakan digital. Rangkaian acara kemudian ditutup oleh Elvin Tan, APAC Lead Magnific.