Growthmates, penderita tekanan darah tinggi atau hipertensi terkadang hanya minum obat ketika merasa pusing atau sakit kepala. Padahal, tekanan darah yang sesekali kembali normal bukan berarti hipertensi sudah teratasi dan pengobatan bisa dilakukan sesuka hati.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, mengingatkan pentingnya mengonsumsi obat hipertensi secara teratur sesuai anjuran dokter.

Kebiasaan minum obat hanya ketika muncul keluhan dapat membuat tekanan darah tidak terkontrol dan meningkatkan risiko komplikasi dalam jangka panjang.

Prof. Zubairi menceritakan pertanyaan yang diterimanya dari seseorang yang mengkhawatirkan kondisi ibunya. Tekanan darah sang ibu terkadang mencapai 170 mmHg atau 165 mmHg, tetapi pada waktu lain kembali normal, sekitar 125 mmHg atau 123 mmHg. Karena merasa tekanan darahnya tidak selalu tinggi, sang ibu hanya minum obat ketika mengalami pusing atau sakit kepala.

Menanggapi kondisi tersebut, Prof. Zubairi menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi memang dapat disertai keluhan tertentu. Namun, yang perlu menjadi perhatian utama bukan sekadar ada atau tidaknya gejala, melainkan risiko kerusakan organ akibat hipertensi yang tidak terkontrol.

“Tekanan darah tinggi itu bisa menyebabkan sakit kepala, leher nggak nyaman, nggak gelisah. Namun, yang lebih penting, tekanan darah tinggi itu lama-lama setelah sekian tahun tidak diobati dengan baik dan benar, tidak minum obat teratur, bisa menyebabkan stroke, bisa menyebabkan serangan jantung, bisa menyebabkan gangguan di ginjal,” tutur Prof. Zubairi, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Rabu (20/10/2026).

Prof. Zubairi melanjutkan, hipertensi yang berlangsung lama tanpa pengendalian yang baik dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, termasuk stroke, serangan jantung, serta gangguan ginjal.

Karena itu, kata dia, penderita tidak seharusnya menjadikan pusing atau sakit kepala sebagai satu-satunya patokan untuk menentukan kapan perlu minum obat.

Baca Juga: Cocok Minum di Pagi Hari, Ini 5 Jus Alami yang Ampuh Bantu Turunkan Tekanan Darah Tinggi

Tekanan darah juga bisa berubah-ubah dari waktu ke waktu. Angka yang kembali normal pada suatu pengukuran belum tentu berarti kondisi hipertensi telah sembuh. Pada sebagian orang, tekanan darah dapat terkontrol justru karena pengobatan yang selama ini dijalani.

Prof. Zubairi menekankan bahwa kepatuhan minum obat berperan penting untuk menjaga kesehatan, bukan hanya saat ini, tetapi juga dalam beberapa tahun mendatang.

“Jadi minum obat darah tinggi teratur itu penting banget untuk menjaga kesehatan sekarang dan menjaga kesehatan 5–10 tahun kemudian,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bukti ilmiah mengenai manfaat pengobatan hipertensi yang dilakukan secara teratur. Menurut Prof. Zubairi, hasil yang dipaparkan dalam pertemuan dokter jantung di Eropa menunjukkan pentingnya keteraturan minum obat untuk membantu mencegah komplikasi akibat tekanan darah tinggi.

“Orang dengan darah tinggi yang minum obatnya teratur memang terbukti bisa menangkal, bisa mencegah timbulnya stroke, jantung, ataupun komplikasi ke ginjal. Dan itu jauh hasilnya lebih baik dibandingkan dengan yang minum obatnya tidak teratur,” kata Prof. Zubairi.

Lebih lanjut, Prof. Zubairi mengingatkan bahwa tujuan utama obat hipertensi bukan semata-mata menghilangkan keluhan seperti pusing atau sakit kepala.

Pengobatan tersebut ditujukan untuk mengendalikan tekanan darah dan mengurangi risiko komplikasi serius dalam jangka panjang.

“Jadi sampaikan pada ibu bahwa obat darah tinggi gunanya bukan untuk menghilangkan sakit kepala, pusing, atau keliyengan, namun untuk mencegah jangka panjang agar 5–7 tahun, 10 tahun lagi tidak stroke, tidak kena serangan jantung,” tutupnya.

Baca Juga: Benarkah Golongan Darah O Berisiko Kolesterol Tinggi? Ini Kata Ahli