British International Investment, lembaga pembiayaan pembangunan dan investor berdampak asal Inggris, akan menandai lima tahun pembukaan kantor pusatnya untuk kawasan Asia di Singapura dengan komitmen pendanaan iklim sebesar US$1,6 miliar di Asia Tenggara.

Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung negara-negara berkembang di Asia Tenggara, termasuk Vietnam, Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Thailand, dalam beralih dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang menghasilkan emisi tinggi menuju sistem energi berbasis energi terbarukan.

Baca Juga: Meneropong Pilihan Investasi Potensial di Tengah Aksi BI Tahan Rate 5,75%

Dari total US$1,6 miliar yang akan diinvestasikan selama lima tahun ke depan, sekitar setengahnya akan berasal dari modal BII, sementara jumlah yang hampir sama akan dihimpun dari investor swasta.

British Climate Partners (BCP), sebuah inisiatif pendanaan iklim yang diluncurkan BII pada awal tahun ini, akan menjadi salah satu saluran penyaluran modal tersebut. BCP didirikan khusus untuk berinvestasi di negara-negara Asia dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dan tingkat emisi karbon yang tinggi.

Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, mengatakan, “Krisis iklim merupakan masalah keamanan nasional yang membutuhkan perhatian segera. Karena itu, pemerintah Inggris memiliki agenda terdepan di dunia dalam upaya mengatasi krisis iklim, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.”

“Saya bangga BII turut membantu negara-negara di Asia Tenggara dalam membangun perekonomian yang lebih bersih dan tangguh. Sebagai lembaga pembiayaan pembangunan Inggris, BII berperan penting dalam mendorong investasi swasta yang lebih besar untuk mendukung pencapaian target iklim dan pembangunan kami.”

Leslie Maasdorp, Chief Executive Officer BII, yang berada di Singapura untuk meluncurkan strategi lima tahun terbaru perusahaan di kawasan ini, mengatakan, “Satu-satunya fokus kami untuk kawasan Asia Tenggara adalah mendanai proyek-proyek di bidang pendanaan iklim yang akan berkontribusi pada masa depan ekonomi kawasan yang bersih dan berkelanjutan. Krisis iklim merupakan tantangan global yang tidak mengenal batas negara. Karena itu, kami berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan ini, sekaligus menurunkan emisi dan memberikan imbal hasil bagi pembayar pajak di Inggris.”

Pada periode 2023–2025, BII berkomitmen menyediakan hampir US$400 juta untuk pendanaan iklim di Asia Tenggaraa, sejalan dengan ambisi organisasi tersebut selama periode itu. Investasi ini mencakup ib vogt, Skye Renewables, Asian Development Bank, VPBank, HDBank, dan Xurya, serta sejumlah dana investasi, seperti Green Investment Partnership dari Pentagreen Capital, SUSI Asia Energy Transition Fund dari Gresham House, dan 100x100 Impact Fund I.

BII berinvestasi di berbagai sektor yang berperan penting dalam mengurangi emisi dan membangun perekonomian yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim di Asia Tenggara. Sektor-sektor tersebut mencakup pembangkit dan transmisi energi terbarukan, infrastruktur kendaraan listrik (EV), pengelolaan limbah, serta infrastruktur air. Investasi ini diperkirakan akan menambah kapasitas energi bersih sebesar 1,8 GW dan menghindari emisi karbon hingga hampir 1,7 juta ton.

Portofolio infrastruktur dan iklim BII di Asia Tenggara telah mendukung kapasitas energi bersih sekitar 358 MW yang telah terpasang atau beroperasi, menghasilkan lebih dari 556.000 MWh listrik dari energi terbarukan, serta mencatat penghindaran emisi karbon sekitar 368.000 ton. Portofolio ini juga telah mendukung terciptanya lebih dari 2.000 lapangan kerja, termasuk pekerjaan langsung, operasional, dan sementara selama masa konstruksi.

Srini Nagarajan, Managing Director sekaligus Head of Asia BII, menambahkan, “BII telah memantapkan posisinya di Asia Tenggara sebagai penyedia modal yang berfokus pada percepatan pengembangan proyek-proyek utama di bidang pendanaan iklim. Dalam lima tahun ke depan, kami akan mengalokasikan modal dalam jumlah yang jauh lebih besar untuk memperluas peluang pendanaan iklim dan mempercepat transisi menuju ekonomi hijau.”