Aktor Teuku Rifnu Wikana kembali menyapa pencinta layar lebar lewat film Memburu Pemangsa. Dalam film tersebut, ia memerankan karakter yang cukup berbeda dari peran-peran sebelumnya, yakni seorang predator anak yang bekerja sama dengan Iblis.
Memerankan karakter dengan sisi moral yang bertolak belakang dengan dirinya menjadi tantangan tersendiri bagi Teuku Rifnu. Proses pendalaman tokoh tersebut bahkan turut memengaruhi kondisi psikologisnya, membuat peran ini menjadi pengalaman yang cukup berat selama perjalanan kariernya sebagai aktor.
Terlepas dari film terbarunya, berikut telah Olenka rangkum dari berbagai sumber, Minggu (27/9/2026), untuk mengenal lebih lanjut sosok dan perjalanan karier Teuku Rifnu wikana.
Baca Juga: Mengenal Sosok dan Jejak Karier Aktor Senior Pritt Timothy
Profil Teuku Rifnu Wikana
Teuku Rifnu Wikana lahir pada 3 Agustus 1980 di Pematangsiantar, Sumatera Utara. Ia merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara, dari pasangan Teuku Syarifuddin dan Cut Nur Asiah yang berasal dari Aceh.
Selain sebagai aktor, pria keturunan Teuku Rifnu juga dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah hingga pemeran teater. Ia mulai mengenal dunia teater sejak duduk di bangku kelas 4 SD.
Pada saat itu, ia bergabung ke dalam Teater 46 yang dipimpin oleh Teuku Rinaldi. Teuku kerap dipercaya untuk memerankan tokoh utama dalam pertunjukan teater menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia atau perayaan Maulid Nabi di Pematangsiantar.
Perihal kehidupan pribadinya, Teuku Rifnu Wikana telah menikah dengan Aida Fuady sejak Mei 2010. Dari pernikahannya tersebut, mereka dikaruniai seorang putri cantik bernama Cut Hanziala atau yang akrab dipanggil Lala.
Perjalanan Karier
Sebelum terjun ke dunia seni peran, Teuku Rifnu Wikana sempat bekerja sebagai manajer di stasiun radio CAS 90.4 FM yang disiarkan di kawasan Pematangsiantar. Ia juga pernah bekerja sebagai tenaga pemasaran. Setelah pindah ke Jakarta, Teuku bahkan sempat menjadi pengamen selama dua bulan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Teuku kemudian mengawali kiprahnya di dunia seni peran melalui teater. Ia mendapat kesempatan tampil di layar lebar untuk pertama kalinya lewat film Mengejar Matahari pada 2004. Menariknya, keterlibatan Teuku dalam film tersebut berawal ketika ia hanya mengantar seorang teman ke lokasi syuting. Ia kemudian diminta mengikuti proses pemilihan pemeran hingga akhirnya mendapatkan peran dalam film tersebut.
Karier Teuku di layar lebar terus berkembang. Pada 2008, ia mendapat peran sebagai Pak Bakri dalam film Laskar Pelangi arahan Riri Riza. Peran tersebut didapat setelah Riri memilih Teuku untuk terlibat dalam film yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata tersebut.
Baca Juga: Berkenalan dengan Aktor Arbani Yasiz, Intip Jejak Kariernya di Dunia Akting
Sejak saat itu, Teuku Rifnu Wikana semakin aktif membintangi berbagai film dengan karakter yang beragam. Beberapa di antaranya adalah Merah Putih, Darah Garuda, Sang Penari, Habibie & Ainun, Belenggu, Java Heat, Jokowi, hingga Di Balik 98. Ia juga tampil dalam sejumlah film populer seperti 3: Alif Lam Mim, Headshot, Dilan 1990, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, Perempuan Tanah Jahanam, dan Dilan 1991.
Memasuki 2020-an, kiprah Teuku di layar lebar semakin beragam. Ia terlibat dalam film Srimulat: Hil yang Mustahal - Babak Pertama, Miracle in Cell No. 7, Jailangkung: Sandekala, Tumbal Kanjeng Iblis, Bayi Ajaib, Di Ambang Kematian, Pemukiman Setan, Siksa Kubur, hingga Qodrat 2. Pada 2026, ia kembali tampil dalam sejumlah film, termasuk Autopsy: Dead Body Can Talk, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, dan Memburu Pemangsa.
Tak hanya aktif di layar lebar, Teuku juga melebarkan kariernya ke berbagai proyek televisi dan serial web. Ia pernah tampil dalam Bajaj Bajuri, Oh Ternyata, Para Pencari Tuhan Jilid 17: Buronan Surga, serta sejumlah serial web seperti The Publicist, Twisted, Angkringan the Series, Pertaruhan the Series, Katarsis, Cinta Pertama Ayah, dan Joko Anwar's Nightmares and Daydreams.
Kiprah Teuku di dunia seni pertunjukan juga tak berhenti pada akting di depan kamera. Ia beberapa kali terlibat dalam pementasan teater, di antaranya Nyai Ontosoroh (2007), Subversif! (2015), Khatulistiwa (2016), dan Untuk Ibu: Kasih Anak Sepanjang Jalan, Kasih Ibu Sepanjang Masa (2018).
Selain menjadi aktor, Teuku Rifnu Wikana juga pernah terlibat di balik layar sebagai sutradara, penulis skenario, produser, hingga pelatih akting. Ia menjadi sutradara film Garis Hitam (2008), pengarah peran dalam Kalau Cinta Jangan Cengeng (2009), serta produser dan penulis skenario Night Bus (2017). Ia juga menyutradarai serial Menutup Malam dengan Harapan dan Ray of Light serta menjadi pelatih akting untuk serial Pulang-Pulang Ganteng.
Penghargaan dan Nominasi
Kiprah Teuku Rifnu Wikana di dunia seni peran juga membawanya meraih sejumlah penghargaan dan nominasi. Berikut di antaranya:
2011 – Nominasi Indonesian Movie Actors Awards melalui film Darah Garuda.
2015 – Nominasi Indonesian Movie Actors Awards melalui film Di Balik 98.
2015 – Nominasi Festival Film Bandung untuk kategori Pemeran Pria Terpuji Film Televisi lewat Hati-Hati dengan Hati.
2017 – Meraih penghargaan Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Festival Film Indonesia melalui film Night Bus.
2017 – Night Bus memenangkan kategori Film Cerita Panjang Terbaik dalam Festival Film Indonesia. Teuku juga menjadi bagian dari tim yang memenangkan kategori Penulis Skenario Adaptasi Terbaik.
Baca Juga: Berkenalan dengan Dimas Danang Suryonegoro, Intip Jejak Karier Aktor Film Ghost in the Cell
2017 – Night Bus masuk nominasi Film Cerita Panjang Terpilih dan Aktor Utama Terpilih di Piala Maya. Kategori Penulis Skenario Adaptasi Terpilih berhasil dimenangkan.
2018 – Meraih penghargaan Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Indonesian Movie Actors Awards melalui Night Bus.
2018 – Nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik Festival Film Indonesia melalui film Wage.
2019 – Nominasi Piala Maya untuk kategori Penampilan Singkat nan Berkesan melalui Perempuan Tanah Jahanam.
2021 – Meraih penghargaan Aktor Pendukung Terbaik Genre Horor dalam Festival Film Wartawan Indonesia melalui Survive.
2021 – Meraih penghargaan Aktor Pendukung Terbaik Genre Drama dalam Festival Film Wartawan Indonesia melalui Quarantine Tales.
2021 – Nominasi Indonesian Movie Actors Awards untuk kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik dan Pemeran Pendukung Pria Terfavorit.
2023 – Meraih penghargaan Best Actor in a Supporting Role dalam Asian Academy Creative Award melalui serial 96 Jam.
Baca Juga: Berkenalan dengan Fuad Idris dan Jejak Karier Sang Aktor Senior
2023 – Nominasi Aktor Utama Terbaik Genre Film Horor di Festival Film Wartawan Indonesia melalui Di Ambang Kematian.
2024 – Nominasi Pemeran Utama Pria Terpuji Serial Web di Festival Film Bandung melalui Cinta Pertama Ayah.
2024 – Nominasi Aktor Pendukung Terbaik Genre Film Horor dan Komedi di Festival Film Wartawan Indonesia melalui Pemukiman Setan dan Srimulat: Hidup Memang Komedi.
2026 – Nominasi Aktor Pendukung Pilihan dalam Festival Film Tempo melalui film Dopamin.