Growthmates, anggapan bahwa orang dengan paha besar memiliki peluang hidup lebih panjang ternyata tidak bisa dijadikan patokan kesehatan. Ukuran paha memang dapat memberikan gambaran tertentu mengenai kondisi tubuh, tetapi bukan berarti semakin besar lingkar paha, semakin panjang pula usia seseorang.

Hal tersebut dijelaskan dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Yunita Aryani, M.Si., M.H. Menurutnya, sejumlah penelitian memang menemukan adanya kaitan antara lingkar paha yang sangat kecil dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular hingga kematian dini.

Namun, temuan tersebut tidak dapat diartikan bahwa paha yang lebih besar otomatis memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar.

“Lingkar paha yang terlalu kecil merupakan salah satu penanda rendahnya massa otot, status gizi yang kurang baik atau kondisi kesehatan tertentu. Hal ini akan berkaitan dengan peningkatan tentunya dengan risiko penyakit dan kematian,” terang dr. Yunita, dikutip dari laman IPB University, Rabu (23/9/2026).

Salah satu penelitian kohort yang diterbitkan dalam British Medical Journal (BMJ) menemukan bahwa lingkar paha yang kecil berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang dapat berujung pada kematian dini, baik pada laki-laki maupun perempuan.

Meski demikian, penelitian tersebut juga menunjukkan adanya efek ambang batas. Artinya, setelah mencapai ukuran tertentu, lingkar paha yang lebih besar tidak otomatis memberikan manfaat kesehatan tambahan. Karena itu, menjadikan ukuran paha semata sebagai indikator panjang umur dapat menimbulkan pemahaman yang keliru.

dr. Yunita menjelaskan, lingkar paha sebenarnya tersusun atas berbagai komponen, mulai dari tulang, massa otot, lemak subkutan, cairan, hingga jaringan lainnya. Dengan demikian, dua orang yang memiliki ukuran lingkar paha sama belum tentu memiliki kondisi kesehatan yang sama.

“Menilai derajat kesehatan seseorang hanya dengan melihat jumlah massa otot saja tidak cukup. Kekuatan dan fungsi otot sering kali memberikan informasi yang lebih bermakna daripada ukuran semata,” katanya.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Malam Hari Ini Bisa Bikin Panjang Umur, Mau Coba?

Massa otot, khususnya otot rangka seperti yang terdapat pada paha, memiliki sejumlah fungsi penting bagi tubuh. Otot berperan dalam penggunaan glukosa, menjaga sensitivitas insulin, membantu pengendalian gula darah, mendukung mobilitas dan keseimbangan, hingga menjadi cadangan protein ketika tubuh mengalami penyakit atau stres metabolik.

Selain massa otot, komposisi lemak juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. dr. Yunita juga menjelaskan bahwa lemak yang tersimpan di area paha dan bokong memiliki karakteristik berbeda dengan lemak visceral yang berada di sekitar organ dalam.

Lemak visceral lebih aktif secara metabolik dan berkaitan dengan sejumlah gangguan kesehatan, seperti resistensi insulin, perlemakan hati, diabetes tipe 2, gangguan kadar kolesterol, hipertensi, serta penyakit kardiovaskular.

Karena itu, ukuran lingkar paha tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk menentukan kondisi kesehatan seseorang. Menurut dr. Yunita, kesehatan secara menyeluruh dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola hidup, aktivitas fisik, pola makan, kualitas tidur, kondisi kesehatan mental, faktor genetik, lingkungan, serta hasil pemeriksaan kesehatan secara berkala.

“Jadi, bukan sekadar seberapa besar pahanya, tetapi apa yang menyusun paha tersebut dan seberapa baik fungsinya,” tukas dr. Yunita.

Terakhir, dr. Yunita pun mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap kondisi tubuhnya sehat hanya karena memiliki paha berukuran besar. Sebab, yang lebih penting bukan sekadar ukuran, melainkan komposisi dan fungsi tubuh.

“Ingat bukan besarnya paha, namun massa otot yang terbentuk dari besarnya paha,” tegas dr. Yunita.

Baca Juga: Ingin Awet Muda dan Tetap Kuat? Ini 3 Olahraga Pembentuk Otot untuk Panjang Umur