Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) mengharapkan, kinerja Industri TPT dapat terus di jaga dan di tingkatkan di era Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, yang dilantik pada 1 Oktober 2026 ini.
AGTI menilai dukungan pemerintah terhadap industri tekstil dan pakaian jadi selama ini cukup baik, dan mencatat penguatan pertumbuhan pada semester pertama 2026.
Baca Juga: LPEI Nilai Industri Tekstil Indonesia Berpeluang Perkuat Kinerja Ekspor
Sekretaris Jenderal AGTI, Rizal Tanzil Rakhman, jika pertumbuhan ini dijaga dan terus melahirkan program-program nyata kepada industri, tentu akan sangat bagus kedepannya.
Menurutnya, dukungan pemerintah tetap dibutuhkan agar perusahaan dapat mengembangkan usaha, memperluas pasar, dan membuka lebih banyak kesempatan kerja.
“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, atas perhatian dan dukungan yang selama ini diberikan kepada industri garmen dan tekstil. Ini tentu menggembirakan bagi pelaku usaha dan menjadi semangat untuk terus berkembang,” ujar Rizal dalam keterangannya, Minggu (4/10/2026).
Kalau melihat data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 3,55% sepanjang 2025. Memasuki 2026, pertumbuhannya mencapai 4,86% secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada kuartal I, kemudian menguat menjadi 6,36% pada kuartal II. Penguatan juga terlihat pada industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki. Setelah tumbuh 3,31% sepanjang 2025, kelompok industri ini mencatat pertumbuhan 5,28% yoy pada kuartal I-2026 dan 11,30% pada kuartal II-2026.
Pertumbuhan kedua kelompok industri pada kuartal II-2026 tersebut lebih tinggi dibandingkan industri pengolahan nonmigas yang sebesar 5,32% dan ekonomi nasional sebesar 5,29% pada periode yang sama. “Angka ini memberi gambaran bahwa industri tekstil, pakaian jadi, kulit dan alas kaki masih punya ruang untuk tumbuh. Kami berharap perkembangan yang baik ini semakin terasa bagi pelaku usaha, baik melalui bertambahnya pesanan, meningkatnya produksi, maupun kesempatan untuk berinvestasi,” kata Rizal.
Selain pertumbuhan industri, kinerja perdagangan luar negeri juga mencatat surplus. Sepanjang Januari–Juli 2026, industri tekstil dan pakaian jadi serta industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki secara gabungan membukukan surplus perdagangan US$5,6 miliar.
Bagi AGTI, capaian tersebut memperlihatkan peran kedua kelompok industri dalam perdagangan luar negeri Indonesia. Rizal berharap peluang di pasar ekspor dapat terus dikembangkan, bersamaan dengan upaya memperkuat penjualan produk dalam negeri.
“Industri ini tidak hanya menghasilkan produk untuk kebutuhan masyarakat, tetapi juga memberikan pemasukan dari pasar ekspor. Potensinya masih besar. Karena itu, kami berharap dukungan terhadap pelaku usaha bisa terus berlanjut agar peluang yang ada dapat dimanfaatkan lebih luas,” ujarnya. Rizal berharap Bapak Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji melanjutkan dukungan yang selama ini membantu industri, sekaligus membuka ruang bagi pelaku usaha untuk menyampaikan kebutuhan dan kendala di lapangan. Menurutnya, kepastian kebijakan menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dalam menyusun rencana usaha. Dengan kepastian tersebut, pelaku industri dapat lebih leluasa merencanakan produksi, memperbarui mesin, hingga mempertimbangkan perluasan pabrik.
“Kami berharap Bapak Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dapat lebih terbuka dan menerima masukan-masukan dari industri, serta meneruskan dan memperkuat kebijakan yang sudah berjalan baik. Bagi pelaku usaha, kepastian itu penting karena rencana investasi dan pengembangan usaha tidak dibuat untuk satu atau dua bulan saja,” kata Rizal.
Meski menyambut penguatan pertumbuhan, AGTI melihat masih ada sejumlah tantangan yang perlu dibicarakan bersama pemerintah. Penguatan daya saing sektor Garmen, biaya energi dan logistik, pembaruan mesin, ketersediaan bahan baku, serta akses pasar menjadi bagian dari kebutuhan pelaku industri untuk meningkatkan daya saing.
Rizal berharap pertumbuhan juga dapat dirasakan lebih luas oleh perusahaan di berbagai mata rantai industri dari hulu hingga hilir. Karena itu, menurutnya, komunikasi antara pemerintah dan asosiasi tetap penting agar dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan usaha.
“Tentu masih ada tantangan yang dihadapi teman-teman di industri. Kami berharap komunikasi dengan pemerintah terus terjaga, sehingga persoalan di lapangan bisa dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya bersama. Dengan begitu, pertumbuhan ini bisa dirasakan oleh semakin banyak pelaku usaha,” ujarnya.
AGTI juga berharap produsen bahan baku dan industri produk jadi dapat berkembang bersama. Penguatan pemasok dalam negeri, menurut Rizal, perlu berjalan seiring dengan ketersediaan bahan baku yang sesuai dari sisi kualitas, harga, dan waktu pengiriman.
Ia menambahkan, asosiasi siap menjadi mitra pemerintah dengan membawa masukan dari pelaku usaha. Harapannya, perkembangan industri tidak hanya tercermin dalam angka pertumbuhan, tetapi juga diikuti bertambahnya investasi, semakin luasnya pasar, dan terjaganya lapangan kerja.
“Dengan pertumbuhan yang sedang menguat, kita memiliki momentum yang baik. Kami berharap di bawah kepemimpinan Bapak Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, industri tekstil, pakaian jadi, kulit dan alas kaki dapat semakin kuat sebagai motor pertumbuhan industri nasional, penghasil devisa dan pencipta lapangan kerja,” tutup Rizal.