Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan iklan digital membuka peluang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia untuk memperluas pasar hingga ke luar negeri. Melalui pendampingan teknologi, pelaku usaha dapat menjangkau calon pembeli internasional tanpa harus terlebih dahulu memiliki jaringan bisnis yang besar di negara tujuan.

Hal ini tercermin dari program pendampingan UMKM bertajuk Gapai Pasar Global dengan AI yang diinisiasi Meta di Indonesia bersama Kementerian Perdagangan dan UKMIndonesia.id.

Program yang ditutup dalam rangkaian Trade Expo Indonesia 2026 pada 15 Oktober 2026 tersebut telah melatih 200 UMKM di Bandung, Batam, dan Jakarta untuk memanfaatkan AI serta solusi bisnis Meta dalam memperluas jangkauan pasar.

Sejumlah peserta program bahkan mulai mencatatkan transaksi ekspor ke Malaysia dan Singapura. Salah satu kisah yang menonjol datang dari Zayya, bisnis fesyen muslim asal Bandung, yang berhasil membukukan penjualan Rp1,14 juta dari Malaysia hanya dengan menginvestasikan Rp150.000 untuk iklan selama lima hari.

Hasil tersebut setara dengan 7,6 kali nilai investasi iklan yang dikeluarkan. Zayya memanfaatkan fitur Advantage+ untuk membantu menemukan audiens yang relevan serta Meta Business Agent untuk mendukung komunikasi dengan calon pelanggan menggunakan bahasa Melayu.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengatakan, kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta diperlukan untuk meningkatkan daya saing UMKM, terutama di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

“Ini untuk kesekian kalinya kita bertemu dan berkolaborasi untuk meningkatkan daya saing bersama rekan-rekan UMKM semua. Kita bersyukur banyak lembaga, institusi yang terus berjalan bersama dengan pemerintah untuk meningkatkan ekonomi kita, UMKM kita,” kata  Budi dalam sambutannya di Trade Expo Indonesia 2026, dikutip Jumat (16/10/2026).

Menurut dia, pelaku UMKM perlu memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen dan pola perdagangan. “Sekarang era digital, kita harus bisa memanfaatkan AI dengan baik. Dan terima kasih kepada Meta yang sudah memfasilitasi ini. Sekarang eranya discovery commerce, jadi produk ataupun consumer yang akan mencari,” katanya.

Direktur Kebijakan Publik Meta untuk Asia Tenggara Sarim Aziz menilai AI dapat membantu UMKM bekerja lebih efisien, memahami pasar, dan menggunakan sumber daya secara lebih tepat. Ketika dipadukan dengan solusi bisnis digital, teknologi tersebut juga berpotensi membuka akses ke pelanggan baru di pasar internasional.

“Bagi UMKM, AI bisa mulai menjadi cara untuk bekerja lebih efisien, memahami pasar, dan mengalokasikan sumber daya dengan lebih tepat. Ketika teknologi ini dipadukan dengan solusi bisnis yang tepat, bahkan investasi yang relatif kecil dapat membuka akses ke pelanggan baru di pasar global,” kata Sarim.

Ia mencontohkan keberhasilan Zayya yang mampu menghasilkan penjualan dari Malaysia dengan biaya iklan relatif rendah. “Misalnya seperti yang terlihat dari Zayya, salah satu UMKM yang mendapat pendampingan, yang menghasilkan 7,6x return dari iklan Rp150 ribu,” ujarnya.

Selain Zayya, pelaku UMKM lain juga mencatatkan hasil positif dari pemanfaatan teknologi digital untuk mengakses pasar ekspor. Obudjamoe, bisnis jamu asal Batam, memperoleh pesanan pertamanya dari Malaysia berupa 60 pouch jahe instan senilai sekitar Rp3 juta. Pesanan tersebut didapat setelah bisnis itu mengeluarkan biaya iklan Rp135.000 selama tujuh hari.

Transaksi tersebut turut mendorong peningkatan penjualan Obudjamoe sekitar 50% dibandingkan kondisi biasanya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran digital dapat membantu produk lokal menemukan pembeli di luar negeri, termasuk bagi usaha yang sebelumnya belum memiliki basis pelanggan internasional.

Baca Juga: Dorong Daya Saing Ekspor, UMKM Binaan PERURI Unjuk Gigi di INACRAFT 2026

Sementara itu, Ayubifood, bisnis makanan ringan berupa artisanal pasta snack asal Jakarta, memanfaatkan Advantage+ dan Meta Business Agent untuk menjangkau distributor produk halal di Malaysia.

Penggunaan AI membantu Ayubifood menurunkan biaya per percakapan hingga 85%. Waktu respons kepada calon pelanggan yang sebelumnya membutuhkan dua hingga tiga jam juga dapat dipangkas menjadi kurang dari lima menit. Selain meningkatkan efisiensi komunikasi, strategi tersebut turut menghasilkan penjualan dari Malaysia.

Ketiga pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa upaya menembus pasar global tidak hanya bergantung pada kualitas produk dan kesiapan ekspor. Kemampuan membangun visibilitas, menemukan audiens yang tepat, merespons calon pembeli dengan cepat, serta mengubah ketertarikan menjadi transaksi juga menjadi faktor penting.

Dalam program Gapai Pasar Global dengan AI, peserta mendapatkan pelatihan, pendampingan, dan kesempatan mempraktikkan penggunaan teknologi untuk mendukung aktivitas bisnis. Materi yang diberikan antara lain pemanfaatan Advantage+ untuk mengoptimalkan iklan serta Meta Business Agent untuk membantu mempercepat respons kepada calon pelanggan.

Kebutuhan terhadap keterampilan tersebut sejalan dengan temuan riset terbaru Meta bersama YouGov mengenai penggunaan AI oleh pelaku usaha kecil di Indonesia. Riset tersebut menunjukkan 86% pemilik usaha kecil yang disurvei menyatakan bisnis mereka telah menggunakan AI. Dari kelompok tersebut, 85% melaporkan dampak positif teknologi tersebut terhadap produktivitas dalam 12 bulan terakhir.

Meski adopsi AI terus berkembang, pendampingan masih dibutuhkan. Sebanyak 91% responden mengatakan UMKM masih memerlukan panduan untuk memperoleh manfaat maksimal dari teknologi tersebut.

Minat terhadap pemanfaatan AI untuk pemasaran juga terbilang tinggi. Sebanyak 98% pemilik usaha kecil di Indonesia berencana menggunakan AI untuk pemasaran dan pembuatan konten dalam 12 bulan ke depan. Sementara itu, 52% menilai pelatihan AI untuk pemasaran dan pembuatan konten akan bermanfaat bagi bisnis mereka.

Temuan lain menunjukkan 59% pemilik UMKM yang bisnisnya telah menggunakan AI memanfaatkannya untuk membuat atau mengedit konten, sedangkan 39% menggunakannya untuk menganalisis informasi bisnis atau pelanggan. Namun, biaya masih menjadi salah satu tantangan, dengan 47% responden menyebut biaya sebagai hambatan untuk mengikuti pelatihan AI.

Sebagai bagian dari upaya memperluas peluang ekspor, Meta dan Kementerian Perdagangan juga menyerahkan National Export-Ready Catalogue yang memuat profil serta produk unggulan peserta program yang dinilai siap menjangkau pasar internasional.

Katalog tersebut diharapkan dapat mendukung upaya memperkenalkan produk UMKM kepada calon pembeli dan memperkuat akses pelaku usaha ke pasar ekspor. Melalui kolaborasi ini, Meta menyatakan akan terus memperluas akses UMKM terhadap teknologi dan keterampilan AI untuk menemukan pelanggan baru serta membuka peluang pertumbuhan bisnis global.

Riset Meta bersama YouGov tersebut dilakukan secara daring terhadap 3.983 pemilik UMKM di sembilan pasar, yakni Australia, Singapura, Vietnam, Indonesia, Taiwan, India, Thailand, Jepang, dan Hong Kong, pada 6 Agustus hingga 2 September 2026. Survei menggunakan kuota berdasarkan ukuran bisnis, mulai dari usaha dengan satu hingga sembilan karyawan, 10–19 karyawan, dan 20–49 karyawan.

Meta dan YouGov menyatakan temuan tersebut memberikan gambaran dari berbagai kelompok usaha kecil di setiap pasar dan bukan merupakan representasi nasional populasi UMKM.

Baca Juga: Meta Perkuat Perlindungan Remaja, Orang Tua Bisa Pantau Topik yang Ditanyakan ke AI