Perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut menjadi ancaman serius bagi sejumlah kota besar di dunia. Bukan hanya kawasan pesisir, beberapa kota juga menghadapi risiko tenggelam akibat penurunan permukaan tanah yang dipicu berbagai faktor, termasuk pemompaan air tanah secara berlebihan.
Mengutip World Economic Forum (WEF), Selasa (06/10/2026), sejumlah kota yang menghadapi ancaman tersebut karena kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim. Sementara penurunan muka tanah memperparah risiko banjir dan genangan.
Jakarta menjadi salah satu kota yang masuk dalam daftar tersebut. Bahkan, sebagian wilayah ibu kota Indonesia disebut berpotensi terendam dalam beberapa dekade mendatang.
Prediksi ini tentu perlu dipahami sebagai proyeksi berdasarkan kondisi lingkungan dan tren kenaikan permukaan laut maupun penurunan tanah, bukan kepastian bahwa kota-kota tersebut akan benar-benar hilang.
Lantas, kota mana saja yang menghadapi risiko tersebut? Berikut daftarnya:
1. Jakarta, Indonesia
Jakarta menghadapi persoalan serius berupa penurunan muka tanah. Salah satu penyebabnya adalah pemompaan air tanah secara berlebihan yang dapat mengubah tekanan dan volume di bawah permukaan sehingga tanah perlahan turun.
WEF menyebut penurunan tanah di Jakarta dapat mencapai 6,7 inci atau sekitar 17 sentimeter per tahun di sejumlah wilayah.
"Sebagian besar kota Jakarta dapat terendam air pada 2050 mendatang," tulis WEF dalam laporannya.
Ancaman tersebut semakin besar karena Jakarta juga berada di kawasan pesisir yang menghadapi risiko kenaikan permukaan laut.
Baca Juga: 5 Kota di Indonesia yang Cocok Buat Kerja Sambil Liburan, Ada Favoritmu?
2. Lagos, Nigeria
Lagos juga menghadapi ancaman dari kenaikan permukaan laut dan terus terkikisnya garis pantai.
Pemanasan global membuat permukaan laut meningkat, sementara kondisi geografis Lagos yang berada di kawasan pesisir membuat kota tersebut semakin rentan terhadap banjir.
Studi University of Plymouth pada 2012 memperkirakan kenaikan permukaan laut sekitar 3 hingga 9 kaki dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap aktivitas manusia di Lagos.
Para ilmuwan juga memperkirakan permukaan laut global dapat mengalami kenaikan signifikan hingga akhir abad ini.
3. Houston, Texas
Sebagian wilayah Houston mengalami penurunan tanah hingga sekitar 2 inci per tahun. Pemompaan air tanah menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.
Semakin rendah posisi tanah, semakin besar pula risiko Houston menghadapi banjir ketika terjadi badai atau cuaca ekstrem.
WEF menyinggung Badai Harvey sebagai salah satu contoh bencana yang memperlihatkan kerentanan kota tersebut. Badai pada 2017 itu merusak hampir 135 ribu rumah dan menyebabkan sekitar 30 ribu orang mengungsi.
Baca Juga: 20 Kota Paling Ramah Pejalan Kaki 2026, Gak Ada dari Indonesia
4. Dhaka, Bangladesh
Dhaka menghadapi ancaman dari kombinasi kenaikan permukaan laut dan penurunan tanah di kawasan pesisir.
Bangladesh sendiri hanya menyumbang sekitar 0,3 persen emisi global, tetapi menjadi salah satu negara yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Salah satu proyeksi menyebut kenaikan permukaan laut dapat menyebabkan sekitar 17 persen wilayah Bangladesh terendam dan berpotensi menggusur sekitar 18 juta penduduk pada 2050.
5. Venice, Italia
Venice sudah lama dikenal sebagai kota yang menghadapi persoalan penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut.
Kota tersebut dilaporkan mengalami penurunan sekitar 0,08 inci per tahun. Ancaman banjir juga membuat pemerintah Italia mengambil langkah perlindungan.
Pada 2003, pemerintah mulai membangun MOSE, sistem penghalang banjir yang terdiri dari 78 pintu di tiga saluran air untuk membantu melindungi Venice dari pasang tinggi dan banjir.
Baca Juga: 10 Kota Terbaik di Dunia untuk Ditinggali Gen Z Tahun Ini
6. Virginia Beach, Virginia
Virginia Beach termasuk kawasan di Pantai Timur Amerika Serikat yang menghadapi laju kenaikan permukaan laut cukup cepat.
Perhitungan tersebut mempertimbangkan kenaikan permukaan air sekaligus penurunan permukaan tanah.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memperkirakan kenaikan permukaan laut di Virginia Beach dapat mencapai hampir 12 kaki pada 2100.
7. Bangkok, Thailand
Selanjutnya, Bangkok menjadi kota lain di Asia Tenggara yang menghadapi ancaman tenggelam.
Kota tersebut mengalami kombinasi penurunan tanah dan kenaikan permukaan laut. Kondisi geografis Bangkok yang berada di dataran rendah juga membuatnya rentan terhadap banjir.
The Guardian sebelumnya menyebut Bangkok berpotensi menghadapi ancaman serius akibat penurunan tanah dan kenaikan permukaan laut dalam beberapa dekade mendatang.
8. New Orleans, Louisiana
Kemudian, New Orleans memiliki kerentanan tinggi terhadap banjir karena sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut.
Studi NASA pada 2016 memperkirakan beberapa bagian kota mengalami penurunan tanah dengan kecepatan sekitar 2 inci per tahun.
Letaknya di kawasan delta sungai juga membuat New Orleans semakin rentan terhadap kenaikan permukaan laut dan banjir.
9. Rotterdam, Belanda
Rotterdam merupakan salah satu kota yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut.
Menurut proyeksi yang dikutip WEF, sekitar 90 persen wilayah Rotterdam berada di bawah permukaan laut. Kondisi tersebut membuat kota ini sangat bergantung pada sistem pengendalian air untuk mengurangi risiko banjir.
Pemerintah Belanda telah mengembangkan berbagai infrastruktur perlindungan, termasuk proyek "Room for the River" dan sistem pintu air raksasa.
10. Alexandria, Mesir
Alexandria juga menghadapi ancaman dari kenaikan permukaan Laut Mediterania.
Kawasan pesisir kota tersebut perlahan mengalami dampak kenaikan air laut. Proyeksi yang dikutip WEF menyebut permukaan Laut Mediterania berpotensi naik hingga sekitar 2 kaki pada 2100.
Jika tren tersebut terus berlanjut, sebagian wilayah pesisir Alexandria akan semakin rentan terhadap banjir dan abrasi.
11. Miami, Florida
Miami menjadi salah satu kota Amerika Serikat yang paling sering disebut ketika membahas ancaman kenaikan permukaan laut.
Penulis lingkungan Jeff Goodell pernah memperkirakan Miami dapat menghadapi ancaman serius hingga akhir abad ini akibat naiknya permukaan laut.
Kenaikan air laut tidak hanya mengancam daratan, tetapi juga dapat memicu banjir, mencemari sumber air minum, serta merusak rumah dan infrastruktur.
Dengan berbagai ancaman tersebut, kota-kota di atas menghadapi tantangan besar dalam menghadapi perubahan iklim. Penurunan tanah, kenaikan permukaan laut, abrasi, hingga banjir ekstrem menjadi faktor yang saling memperbesar risiko.
Bagi kota pesisir seperti Jakarta, ancaman tersebut membuat pengendalian penggunaan air tanah, perlindungan pesisir, dan penanganan perubahan iklim menjadi semakin penting untuk mencegah dampak yang lebih besar di masa depan.